Gunung adalah Salah Satu Guru Terbaik

Saya bisa menjadi apa saja yang saya mau seperti saya bisa mendaki gunung padahal saya bukan pendaki, karena saya punya kebebasan yang didapatkan dari kebahagian orang-orang terdekat saya.


We do not underestimate anything

Sebelum saya naik turun gunung dengan pakaian militer, helm tempur, senjata SS1 laras panjang, dan sepatu boots dengan jarak tempuh puluhan kilometer dalam Pendidikan Pertama Perwira Karir saya tahun 2017 lalu di Magelang, Jawa Tengah, saya pernah menempuh campur-aduknya track pendakian kaki Gunung Semeru bersama dengan teman-teman volunteer ITS International office saya pada tahun 2013. Ini adalah  cerita  pendakian pertama dalam hidup saya...




Kisah Juli 2013


Melihat berbagai kendaraan yang sedang berdesakan dan menuju rumahnya masing-masing merupakan pemandangan yang selalu setia hadir ketika waktu telah menunjukan pukul enam sore di jalanan kota yang senja. Saat itu yang ada dipikiran ini hanyalah segera pulang dan menyiapkan beberapa peralatan yang diperlukan untuk sebuah perjalanan baru yang tidak pernah saya lewati sebelumnya. Saya merenung dan sedikit memiliki kekhawatiran akan hal-hal yang tidak terbayangkan di atas sebuah dataran  yang sangat tinggi, karena mendaki bukanlah pekerjaan yang biasa saya lakukan. Kekhawatiran itu ditambah dengan buruknya aroma gas buangan kendaraan di jalanan yang menusuk secara terus menerus, menghantam lubang hidung saya, dan panasnya polusi udara yang membuat badan saya mengucurkan keringat di atas motor yang terjebak dalam sesaknya jalan, duh... Mama.... 

Senja, namun terang karena cahaya lampu dari ribuan kendaraan. Terang namun suram dan melelahkan karena sesaknya jalan. Pemandangan tersebut mengarahkan harapan saya untuk segera melihat suatu tempat yang menenangkan, yang dapat menghilangkan segala pemikiran yang rumit dengan sekejap, yaitu rumah, kecuali kalau sampai rumah sang Emak minta tolong belikan gula/garem/ketumbar/laos/jahe dan antek-anteknya. Sedih, karena batal masuk rumah seketika (I love you Mom like I really mean it). Motor kesayangan ini telah berhadapan dengan jeruji pagar besi berwarna hitam yang melindungi bagian depan rumah kebanggan saya selama 24 tahun terakhir. Saya melalui ruangan demi ruangan dengan aroma khas penggorengan yang baru saja digunakan dan selalu tercium setiap sore di dapur rumah. Was-was, disuruh beli apa ya kali ini sama Emak. Sampailah saya di sebuah kamar yang cukup berantakan, karena rupanya pagi tadi saya terlalu terburu-buru sehingga lupa untuk merapikan kamar saya. Seketika Emak datang dengan pakaian rukuh salatnya sambil berkata "Kebiasaan kamu ya kamar ditinggal dalam keadaan berantakan! Sana makan dulu." Lalu saya semakin was-was, kenapa disuruh makan dulu? mau diapakan saya? Bercanda seperti biasa, Mama tetap yang paling menyayangi dan mengerti anak nakalnya ini.

Saya perlu menyiapkan semua peralatan yang diperlukan seperti tas, pakaian, makanan, penghangat kepala, dan beberapa alat penting lainya untuk pendakian. Perasaan campur aduk terus menerus menggelitik uluk hati. Nampaknya saya sangat menyadari bahwa perasaan bersemangat lebih dominan kala itu. Memerlukan waktu tidur lebih awal karena keberangkatan perjalanan akan dimulai dari kampus pada pukul tiga dini hari. Ini adalah kebutuhan semua peserta yang saat itu akan mengikuti perjalanan ini. Beberapa wajah yang sangat baru terlintas berulang-ulang sebelum saya memejamkan mata saya untuk tidur sejenak. Ya, mereka wajah-wajah baru itu adalah teman-teman baru saya karena saya baru saja diterima menjadi volunteer di ITS International Office yang diketuai oleh Dr Maria, wanita inspiratif dari kampus saya. Cahaya kuning yang lembut memancar di kamar saya membuat suasana remang dan hangat. Terfikir, saya akan melakukan perjalanan ini dengan mereka yang tidak saya kenal sebelumnya. Perjalanan ini sengaja dirancang untuk dijadikan salah satu cara dalam membentuk karakter kami dalam bekerja bersama. Wajah-wajah asing itu kembali muncul dalam renungan sebelum tidur seiring dengan usaha saya dalam mengingat nama-nama dari wajah-wajah tersebut. Hingga akhirnya saya tertidur sejenak. Tidur lelap.... ya... mendengkur? pasti.


Terdengar suara alarm yang menggetarkan gendang telinga sehingga membuat saya kembali memandang langit-langit kamar yang gelap namun tersirat oleh cahaya lampu tidur yang berwarna kuning kalem. Pemandangan langit-langit yang adiktif itu menggoda saya untuk tidur kembali namun tidak bisa, karena langit-langit lain telah menanti saya di ketinggian 2.4 kilometer di atas permukaan laut. Hal itu yang dapat mentransimisikan energi sehingga perasaan bersemangat menjadi perasaan yang paling dominan. 

Dini hari pukul 02.30 AM berada di atas motor dengan Papa, memandangi bangunan-bangunan yang tampak beristirahat, dimana setiap bangunan memancarkan cahaya yang tenang dari dalam cendelanya. Ditambah dengan suasana jalanan kosong yang bersih dari suara klakson, gas buangan kendaraan dan kendaraan-kendaraan yang biasanya memenuhi jalanan itu di pukul enam sore. Perasaan yang timbul begitu nyata bahwa ini akan menjadi serangkaian perjalanan yang menyenangkan. 

Tiba akhirnya saya di kampus melihat beberapa orang membawa tas pendaki dan alat-alat lainya. Suasana gelap semakin membuat saya susah untuk mengenali wajah-wajah asing tersebut. Segera saya bergabung dengan mereka dan memasuki bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Di dalam bus suasana yang dingin itu mulai mencair dan hangat karena dengan bantuan lampu kursi penumpang, saya mulai dapat mengenali rekan-rekan volunteer lainya dan kami pun membaur. Perjalanan tidak begitu terasa panjang untuk mencapai sebuah desa yang jauh karena sebagian dari kami memutuskan untuk tidur kembali. Saya tidak begitu mengingat nama-nama desa yang kami lalui. Di salah satu desa kami diminta untuk bangun dari kursi penumpang dan turun. Pemandangan yang saya lihat adalah beberapa mobil pick-up yang rencananya akan mengantarkan kami untuk melanjutkan perjalanan. Kami menaiki mobil pick-up tersebut, berdesakan dan diminta untuk berdiri. Di situ perjalanan begitu menyenangkan. hampir satu jam setengah kami berdiri di atas pick-up tersebut dan memandangi alam yang begitu bersinergi. Pemandangan dari pepohonan, langit, dan udara sejuk yang menghembus di wajah-wajah kami membuat beberapa dari kami yang ada di atas mobil pick-up itu bernyanyi.  Kaki mulai terasa kaku dan kesemutan karena lama berdiri, bukan asamurat, dan perut sedikit mual karena kami melalui jalanan yang berkelok dengan posisi berdiri dan berdesakan. Namun hal itu tidak mengalahkan rasa semangat yang menggebu-gebu. Berkali-kali terdengar ucapan dari rekan-rakan saya yang sudah semakin saya kenali saat itu di atas mobil pick-up, mengungkapkan ketidak sabaran mereka untuk memulai pendakian. Rupanya ini adalah pengalaman pendakian pertama untuk sebagian besar dari kami.


1.5 Jam menikmati sempitnya dunia

Menuju Desa Tumpang 
Tanda-tanda jalan yang menghantarkan kami menuju tujuan awal pendakian 

Akhirnya terdengar aba-aba untuk bersiap turun dari mobil pick-up dan mempersiapkan barang-barang bawaan. Masing-masing dari kami telah membawa apa yang diperlukan dan mengambil langkah awal untuk sebuah pendakian. Canda tawa menghiasi wajah puluhan pendaki itu. Jumlah kami lebih dari 40 orang sehingga kami dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Saya memiliki kelompok yang sangat menyenangkan dan selalu membuat saya terkagum setiap kali mendengar cerita-cerita pengalaman hidup mereka. Saya sangat tertarik dengan cerita apapun sehingga saya rasa mendengar cerita-cerita mereka ketika mendaki akan membantu saya untuk melupakan jarak tempuh dan waktu. Mereka adalah Bunga, Lucky, Andri, Vidi, dan Denisa. Kami dituntut untuk melakukan pendakian sejauh 12 kilometer dengan ketinggian 2.4 km di atas permukaan air laut. Setelah mencapai kilometer ke tiga beberapa dari pendaki perempuan di regu saya menyatakan ketidak sanggupannya untuk menompa beban yang disalurkan dari barang bawaan ke pundak mereka. Sehingga kami melakukan beberapa startegi demi mengatasi kendala tersebut. Beberapa beban seperti minuman dan makanan dipindahkan ke tas lainnya sehingga tas mereka akan terasa lebih ringan dan saat itu saya menompa dua tas, satu TAS milik saya sendiri dan yang lainnya adalah tas yang berisi barang-barang yang disalurkan untuk meringankan beban bawaan para perempuan. Pemandangan begitu luar biasa, saya tidak pernah merasakan sensasi dunia semacam ini sebelumnya. Saya bisa melihat lembah yang begitu dalam dan gunung yang begitu tinggi, sedangkan saya berada dalam hutan di tepi lembah tersebut dengan aroma pinus yang menyegarkan pagi. Sinar matahari yang menerobos masuk ke ranting-ranting pohon juga menambah keindahan ciptaan Allah SWT yang tidak dapat kita pungkiri. Nafas dari kami berenam terdengar secara bergantian karena kemiringan jalur pendakian semakin bertambah. Denisa berkali-kali nampak akan terjatuh namun kami berenam saling menjaga satu sama lain. Andri memimpin rombongan di depan, sedangkan Vidi berada di tengah menjaga pendaki wanita di regu kami. Saya berada di posisi paling akhir, memastikan tidak ada anggota regu yang tertinggal dan siapa tau nemu duit jatuh. Lucky merupakan anggota regu paling sabar. Bunga merupakan anggota regu yang paling bersemangat dan menggebu-gebu, bahkan dia menganggap setiap tikungan pendakian merupakan satu belokan terakhir dalam pendakian ini.


Sinar matahari begitu panas namun kami tidak ingin melepaskan pakaian hangat kami
Sinar matahari begitu terik namun hawa begitu dingin. Kami biasanya mengeluhkan kondisi cuaca dan suhu ketika kami ada di kota, namun ternyata dalam pendakian ini, medan merupakan sesuatu yang lebih sering diperbincangkan. Teriakan sering sekali terdengar dengan bermacam-macam penyebab. Sesekali kami mendengar teriakan kecil karena terjatuh dan terpeleset, teriakan semangat karena ingin membuang rasa putus asa dalam regu, dan teriakan yang kencang karena tertawa terbahak-bahak. Saya sangat merasakan ikatan yang semakin intim diantara kami ber-enam. Dalam kondisi tersebut perasaan semangat ternyata masih yang paling dominan. Hal tersebut dapat diperatikan dari cara kami meneriakkan sesuatu. Kilometer ke enam akhirnya tercapai. kami mulai duduk di pinggiran jalur pendakian yang sempit karena akhirnya kami perlu untuk duduk dan beristirahat sejenak. 


Begini gambarannya, ujung kaki saya mendekati jurang


Saya dapat merasakan ujung kaki saya sangat berdekatan dengan jurang. Namun tidak ada rasa takut saat itu melainkan rasa takjub yang saya rasakan. Pemandangan indah dari gunung dan lembah membuat saya berkali-kali memuji kebesaran Allah SWT. Kami tidak bisa berlama-lama duduk dan beristirahat karena regu lain nampak sangat cepat untuk berpindah dan mendaki. Kami melanjutkan perjalanan menuju kilometer ke 12  yang ternyata masih terasa sangat jauh, karena faktanya kami baru saja menyelesaikan setengah perjalanan. Terik matahari semakin terasa panas dan udara dingin membingungkan indra-indra kami. Saya melihat regu-regu lain berkumpul di suatu titik pendakian dan sinar terik matahari yang menyertai tawa mereka melihat sebuah pertunjukan yang menghibur ditengah-tengah pendakian ini. Terdapat rute yang sangat jenaka yaitu tanjakan dengan kemiringan 50 derajat, bikin saya ketawa karena pesimis. Banyak dari kami yang ingin melihat teman-teman kami melalui 100 meter tanjakan 50 derajat tersebut. Mereka mendaki dan merayap-rayap dengan tertawa, berteriak dan melotot. Sebagian dari mereka yang masih duduk dibawah dan belum mencoba juga tertawa terpingkal-pingkal melihat pemandangan itu. Namun tawa yang saya dengar berbeda diantara mereka yang belum mencoba dan mereka yang sedang merayap. Terdapat sedikit ekspresi tawa dendam di wajah mereka yang sedang melakukan perayapan. Saya belum merasa dekat dengan regu lain namun kondisi tersebut mencairkan suasanan pendakian yang menekan.

Regu-regu itu terpisah lagi dan saya kembali berada diantara regu yang berisi enam orang itu. Kami berenam memulai pendakian kami yang sepi dan seketika udara menjadi dingin tanpa kehadiran sinar mata hari. Keringat yang mengucur karena menahan lelah seketika cepat kering karena hawa yang begitu dingin menusuk kulit. Di kilometer ke delapan saya merasakan  ada atmosfir yang aneh. Sebagian dari kami menginginkan pemberhentian lagi dan duduk beristirahat. Namun kami baru saja berhenti di kilometer ke enam. Kami terus mendaki di jalur yang tidak begitu landai. Suasana menjadi biru kegelapan dan dikelilingi dengan ranting-ranting pohon yang rindang. Denisa mengungkapkan rasa sesak nafasnya sedangkan yang lain terdiam dan tetap mendaki. Saya berkali-kali menarik nafas yang berat dan membiarkan udara dingin yang berbeda ini menusuk rongga hidung saya. Saya merasa indra-indra di tubuh membeku dan nafas terasa sesak. Beberapa ratus meter kami alami dengan kondisi tubuh dan alam yang mendadak aneh. Hingga akhirnya kami berada di ketinggian yang membiarkan terik sinar mata hari terkapar di wajah kami lagi dan menghangatkan sekujur tubuh kami. Suasana mendadak berubah dari biru redup kegelapan menjadi kuning terang keemasan bercampur dengan birunya langit tanpa awan.  Saya merasakan kehangatan itu mencairkan sesuatu yang beku di rongga hidung saya. Ketika saya menyadari pemandangan yang saya lihat, saya takjub dan mengerti kenapa sebelum ini kami merasakan kondisi alam yang aneh, ternyata kami telah menembus gumpalan awan. Rasa dingin itu berasal dari air yang terkandung dalam gumpalan awan yang kami terobos. Di atas gumpalan awan ini sinar matahari begitu bebas dan berwarna keemasan , menyinari tiap-tiap benda yang ada, termasuk kami dan gumpalan awan yang ada di bawah kami saat itu. Kami terkagum dan tidak bisa berhenti mengucapkan pujian atas kuasa Allah SWT. Sperti di negeri dongeng, kami sedang hidup di atas awan.


Kami melewatinya dengan pendakian
"Satu tikungan lagi !" terdengar suara teriakan Bunga. Tidak ada yang merespon seruan tersebut dengan serius karena kami semua dalam regu itu tau bahwa perjalanan masih sangat jauh. Kami berusaha mengurangi beban bawaan kami dengan meminum air sebanyak-banyaknya yang kami bawa dalam botol plastik yang besar di masing-masing tas kami. Kami membutuhkan air dan kami menginginkan barang bawaan kami menjadi ringan, saya rasa itu adalah kombinasi yang sangat membantu. Nampaknya Bunga sangat menginginkan agar kita segera mencapai danau tujuan dengan memberika semangat pada kami semua di regu itu untuk berjalan lebih cepat. "Lebih cepat lagi! setelah ini kita sampai!" seru Bunga ketika ia mengetahui bahwa jarak tujuan masih sangat jauh. Terdengan hembusan lelah nafas Denisa yang berjalan di depan saya dan berkata, "lebih baik kalian jalan mendahuluiku, biarkan aku berjalan menunggu kelompok lain di belakang sana." Denisa pun berjalan kebelakang saya sedangkan saya seharusnya menjadi orang terakhir di regu itu. Loh..loh..loh.. kok jadi gini.. Iya sama, saya juga kaget pada saat itu. Tentunya kami tidak ingin terpisah karena kami berusaha untuk mencapai tujuan bersama-sama. Bunga berjalan ke belakang mengikuti Denisa, mendekatinya di jalur pendakian yang sempit itu dan memberika semangat. Saya sangat menikmati hangatnya mentari yang menunjukkan keagungannya dengan menghangatkan kami semua di suhu yang sangat dingin itu. Ketika saya memandangi ilalang yang berwarna keemasan karena cahaya mentari, Denisa tiba-tiba berjalan cepat menerobos kami semua yang ada di regu itu, berjalan paling depan dan menghilang dari pandangan kami semua di depan sana. Waduh.. kok sekarang hilangnya ke depan. "Kemana ia pergi?" saya bertanya pada Bunga. "Tidak tau, dia nampak marah dan kesal setelah aku memberikan dia semangat." Jawabnya dengan khawatir. Saya dan Bunga meminta izin pada regu kami untuk mengejar Denisa, kami berlari mencari ke arah tempat dimana terakhir dia hilang dari pandangan kami. Semak-semak dan pepohonan yang tinggi sangat menyulitkan kami untuk menemukannya. Kami berdua berlari kecil dengan tatapan mata yang awas untuk bisa menemukannya. Denisa mengenakan jaket berwarna ungu menyala yang sangat mempermudah kami dalam pencarian di semak-semak yang tinggi itu. Dari kejauhan terlihat seorang wanita mengenakan jaket yang saya maksud dan terjatuh dengan posisi tubuh tengkurap. Kami panik dan berlari mendekatinya. Dia menangis dan tampak membenci kondisi saat itu. "Saya tidak kuat jika disuruh berjalan dengan cepat terus menerus, hentikan menyuruh saya  berjalan cepat!" Kata-kata Denisa yang terdengar bersama dengan hembusan nafas lelah dan air mata. Saya dan bunga membantunya berdiri, meraih lengannya yang basah karena embun ilalang yang disebabkan oleh cuaca dingin dan hangatnya matahari. Kami kembali ke regu dan menurunkan kecepatan langkah kami agar kami bisa terus bersama-sama. Tetap bersama.

Kilometer ke sepuluh, saya tidak bisa berhenti menyanjung kebesaran Allah SWT. Tuhan menciptakan semua yang ada di alam ini dengan penuh ketelitian. Ranting demi ranting di peophonan yang kami lalui dan aroma dari kayu dan tanah yang basah membuat pemandangan alam itu begitu orisinil. "Tujuan kita! tujuan kita! di depan sana!" Seruan Andri yang berjalan paling depan. Kami sempat tidak percaya melihat hamparan yang begitu indah, kombinasi antara danau biru yang membentang luas, dikelilingi oleh hamparan rumput yang hijau, langit yang begitu cerah, dan bukit-bukit yang mengelilinginya seolah mengklaim bahwa danau itu adalah harta mereka. Tidak ada satu pun dari kami yang tidak berteriak melihat pemandangan itu. Kami berteriak demi membebaskan rasa lelah kami yang kami kumpulkan dalam pendakian 10 kilometer ini. Akhirnya kami mendaki lagi sejauh dua kilometer dengan pemandangan lukisan alam yang menakjubkan.

Momen pencapaian sepuluh kilometer dan menuju pendakian 2 kilometer terakhir


12 kilometer telah kami tempuh, tidak ada wajah suram diantara kami semua. Mendaki sejauh 12 kilometer bagi kami yang bukan pendaki bisa saja membuat fisik kami lelah, tapi kami tidak bisa mendustai nikmat Tuhan ini. Tidak ada satupun alasan untuk tidak tersenyum dan bersyukur. Kami akhirnya menapak tanah landai yang luas lagi, setelah 12 kilometer dijalur yang sempit dan naik-turun. Saya, Vidi dan Andri memasang tenda kami dengan kokoh, sedangkan Lucky, Bunga, dan Denisa memasak bekal makanan yang kami bawa. Ya, perut laper banget, terlebih suhu dingin telah mencapai minus lima derajat selsius. Selang beberapa menit kami selalu menemukan regu-regu lain dari rombongan kami dan memastikan bahwa kami semua telah sampai tanpa ada yang tertinggal. Kami melepas lelah dengan menikmati indahnya sore di tepi danau yang sempat tersembunyi ini. Tuhan begitu detail dalam memperindah ciptaan-Nya. Matahari terbenam, langit senja mulai pergi dan digantikan dengan hitamnya langit malam yang terang karena jutaan bintang yang mendominasi langit. Malam itu, beberpa dari kami memutuskan untuk terlentang menggunkan sleeping bag di luar tenda dan memandangi bintang-bintang di ketinggian. Tidak ada cahaya lampu dan polusi kota yang menghalangi terangnya jutaan bintang di langit malam di tepi Ranu Kumbolo. 11 kali saya melihat bintang jatuh bergerak melintas di langit itu sampai akhirnya saya tertidur dengan pemandangan langit yang luar biasa indah.







Saya belajar, ketika bekerja dalam sebuah tim (sekolah, kampus, kantor, organisasi, keluarga, dsb), emosilah yang perlu kita perhatikan. Memahami keinginan antara satu anggota dan anggota lainya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Mengontrol emosi diri tidak mudah selayaknya orang Indonesia makan sambal ulek. Saya belajar, setiap orang memiliki hak atas keinginan mereka. Sebagai makhluk sosial, kita lebih baik memahami dan tidak meremehkan apapun yang kita lihat, terlebih terhadap kemampuan partner kita. Merasa kesusahan? semua orang punya beban masing-msing. Merasa hebat? semua orang punya kehebatan masing-masing. Saya belajar bertoleransi dan berdamai dengan rasa syukur meski sedang bekerja keras. Ya, tidak semua orang dapat mencapai posisi yang saya punya, seperti tidak semua orang bisa merasakan indahnya Ranu Kumbolo dan Gunung Semeru. Untuk Mencapai puncak, kita perlu kerja keras. Selain itu, saya belajar untuk berpikir lebih positif dalam menjalin hubungan antar partner dalam tim, ketika melihat partner dalam tim kesusahan dalam meraih puncak dengan cepat, katakanlah "pelan-pelan saja dulu, asalkan jangan berencana untuk berhenti mengusahakannya", sebaiknya tidak ada hal yang patut diremehkan atau kesalahan-kesalahan yang perlu dicari, terhadap partner kita maupun diri kita sendiri. Sekali lagi, setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda dalam meraih tujuan mereka, ketika tujuan itu tercapai tanpa ada satupun dari partner kita yang tersakiti, maka pemandangan yang terkumpul dihadapan kita akan terasa begitu lengkap, yaitu tujuan yang terselesaikan dan senyuman dari oran-orang di sekitar kita. 
 Life is about the other people's happiness that will create our freedom"
Kata-kata itu begitu saja muncul di kepala saya ketika saya melihat kombinasi kebahagiaan yang begitu asli di tepi danau itu. Saya belajar, ketika orang-orang di sekitar saya bahagia, disitulah saya menemukan sebuah kebebasan.

The happiness continues~




13 comments :

  1. Ranu Kumbolooooo, yee we made it. Kangeen eh masa-masa awal jd volunteer, masih inget banget aku ragu mau ikut pendakian ke ranu kumbolo. Terus begitu sampai di atas, berasa negeri di atas awan. So lucky banget setim sama kalian, lucu kalau inget ada drama marah-marahannya wkwkw stay happy, stay healthy jal ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan ini berasa pribadi bgt dan utk org2 yang hadir di cerita :D Stay true to yourself!

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Tulisan dan gambar ft keren abis.. Sy cm liat ranu kumbolo di acara tv jejak petualang sj... Point lain.. sy suka dng tulisan kedekatan dgn figur emak ato mamanya berati nunjukin sayangnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo terima kasih udah mampir pagi2 yaa :)
      Salam kenal

      Delete
  4. daki emang seru,ada yang bilang watak asli kita akan muncul ketika lagi daki.. mantul gan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bangett, disitu saya dapet pembelajarannya untuk menjaga emosi;D terima kasih sudah mampir ya. Salam kenal

      Delete
  5. Seru ceritanya.. Mengingatkan pengalaman pribadi saya waktu KKN di Ranu Pane dan nyempetin untuk mendaki Semeru. Sayangnya gagal muncak karena status Semeru saat itu siaga 1,jadi cuma bisa menikmati negeri atas awan dari punggungnya aja. Cerita soal perjalanan mas menuju ke Ranu Kumbolo bakal lebih seru lagi kalo dilanjutkan ke puncak Semeru. Salam kenal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo salam kenal. Seneng banget bisa denger critamu. Beruntung ya KKNnya di tempat se-seru itu. Iya belum sempet kepikiran bisa sampai puncak gunung. I hope oneday, I have that opportunity. :D Makasih udah mampir ya!

      Delete

First Launched Article

Kelahiran dari Kebaruan

"Sama halnya dengan bayi-bayi yang membutuhkan orang tua mereka untuk menuntun tumbuh kembangnya, para penulis membutuhkan pembaca u...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes