Perwira Prajurit Karier TNI adalah Takdir yang Dipilih!


"Dulu saya paling ogah-ogahan banget lah kalau ditanya soal cita-cita jadi TNI. Kakek, Ibu, Om, tetangga kerjanya pada jadi TNI berjamaah, jadi pengen aja cari yang beda sebenernya. Saya ingin profesi yang lain dengan harapan dapat memiliki kreativitas yang inovatif di lingkungan saya. Namun pada akhirnya saya pilih TNI sebagai jalan hidup karir saya."

It's been almost 2 Years of Service

Sesungguhnya saya sudah pernah singgung tentang dunia militer di artikel pertama saya yang berujudul "Kelahiran dari Kebaruan", artikel tersebut bisa kalian akses dengan cara search menggunakan ikon kaca pembesar di menu bar atas. Artikel pertama itu saya publish pada tanggal 18 November 2016 (silaaam banget wkwkw), saya bercerita mengenai Emak saya yang pernah mengabdi sebagai Wanita TNI Angkatan Laut selama lebih dari 32 tahun, pensiun 2011. Kebayang kan kalo ngamuk di rumah bagaimana? Dengan rumus The power of Emak-emak + Militer, seakan tidak ada jalan keluar untuk seisi rumah, I love her very much by the way! Beliau ditugaskan di satu kota saja semasa dinasnya yaitu Surabaya, the city where I was born and raised dan sekarang saya telah  merantau meninggalkan kota itu demi mencari sesuap emas – optimis ya. Saya gak pernah kebayang bakalan kerja di satu tempat bertahun-tahun menggunakan pakaian yang sama setiap harinya, pakaiannya kembaran pula sama temen-temen sekantor. Dulu saya punya mimpi untuk diaspora (tinggal dan menetap di luar negeri demi mendapat kehidupan yang lebih tertata). Tentunya sangat bertolak belakang dengan kehidupan militer khususnya angkatan laut. Itulah alasan mengapa saya paling ‘ogah bener’ kalau diminta orang tua atau sanak saudara buat daftar militer, impian diaspora saya lenyap dong. Tapi kenapa sekarang saya malah berprofesi sebagai Perwira TNI AL? Begini cerita singka...aa....aatnya.


Emakku tersayang, hey ada ponakan ganteng

Saya adalah anak bungsu dari 3 bersaudara di keluarga saya. Pada umumnya, si kecil ini mintanya macem-macem banget dan harus dituruti. Sehingga pada saat saya kuliah di ITS jurusan Teknik Kelautan, saya diberi kebebasan yang cukup oleh kedua orang tua saya dalam memilih dan mengambil kesempatan. Namun pilihan-pilihan yang saya rencanakan ternyata banyak membutuhkan biaya yang gak sedikit, sedangkan keluarga saya mengalami permasalahan finansial yang cukup berat pada kala itu. Melihat rekening keluarga dan impian saya, rasanya mustahil semua itu akan terwujud. Pada saat kuliah, saya bermimpi:


1) Ingin bayar kuliah sendiri
2) Ingin daftar Gym di tempat yang bagus (resolusi tahun baru 2013 ala-ala wkwk)
3) Ingin kursus Bahasa Inggris
4) Ingin Pergi jalan-jalan ke luar negeri, dan lain-lain.


Intinya saya ingin yang mahal-mahal tapi gak minta orang tua karena sadar diri. Untuk tambahan tabungan saya, saya juga pernah mencoba melamar kerja sebagai resepsionis sebuah apartemen di Surabaya, mereka butuh yang bisa Bahasa Inggris katanya, jadi saya daftar dan nego untuk pilih shift kerja pada sesi interviewnya, karena maklum masih menyesuaikan jadwal kuliah. Sehari kemudian saya ditelpon apartemen dan saya dinyatakan diterima bekerja. Terus Emak saya marah ala-ala TNI dong ya, saya daftar kerja gak bilang-bilang, beliau takut saya bakalan keteteran dengan tugas-tugas kampus saya, apalagi tugas rancang bangunan pada saat itu. Semalem suntuk saya diberi khotbah/ pidato/ siraman rohani/ tausiyah (whatever you call it) oleh Emak sampe nyambung waktu Tahajud. Akhirnya saya telepon balik ke Pihak apartemen kalau saya batal minat jadi pegawai di sana. Sampai pada akhirnya saya harus puas dengan kerja part time sebagai guru les setiap senin-jumat malam setelah pulang kuliah mengajar 8 murid demi memenuhi mimpi saya di poin 1 dan 2. 


Sejauh ini belum ada bau-bau militer ya.... kecuali marahnya Emak. Sabar.......


Nah, saya udah jadi guru les gitu masih merasa kurang, yah.. gimana mau jalan-jalan ke luar negeri kalo cuman mentok jadi guru les paruh waktu? Saya mulai cari-cari beragam jenis beasiswa mulai dari yang kelas ringan sampai yang ditawarkan oleh perusahaan multinasional yang cukup besar. Dari uang beasiswa-beasiswa itu saya bisa nge-gym dan sekaligus beli-beli suplemennya yang terbilang gak murah (thanks to the scholarships providers who had helped me build my body and health .. oops). Tapi saya juga gak lupa untuk bayar SPP kuliah dari beasiswa-beasiswa itu, jadi masih dalam batas ‘tanggung jawab’. Sejauh ini masih belum juga nyentuh ke mimpi poin 3 dan 4.


Di tahun ke 2 masa kuliah, saya "beranikan diri" daftar jadi volunteer untuk Kantor Hubungan Internasional Kampus ITS (ITS IO - International Office). Kenapa kata-kata "beranikan diri" saya kasih tanda petik dua, karena saingannya pada saat daftar itu anak-anak encer.. otaknya yang encer maksudnya. Pada "cas cis cus" kalo bahasa inggris-an.  Terus pada kelihatan punya leadership dan kreativitas yang outstanding banget lah. Proses seleksi lebih dari 3 hari yang macem-macem banget tahapannya, tapi Alhamdulillah.. nama saya nyempil juga di daftar peserta yang lolos. Hampir 2 tahun saya bekerja sukarela sambil mengasah bahasa inggris dan leadership saya di sana dan alhamdulillah bersama dengan mereka saya diberi kesempatan pergi ke 3 negara untuk misi-misi akademik (point 3 and 4 were finally accomplished). Sampai sekarang saya masih kagum dengan orang-orang ITS IO, bahkan Kepala ITS IO kami yang memiliki timeless spirit, Dr. Maria Anityasari yang juga Dosen Teknik Industri ITS, tahun 2018 lalu ditetapkan sebagai salah satu dari beberapa wanita luar biasa dari berbagai Negara di dunia yang menjadi leader dibidang science, technology, engineering, arts, and math yang acaranya di gelar di Wanshington DC, Amerika Serikat oleh National Geograpich. Bukan hanya beliau, tapi teman-teman ITS IO saya yang lain juga sudah tersebar di seluruh penjuru bumi dan membawa sang Merah Putih dalam karya-karya mereka pada bidang masing-masing di luar negri sana yang gak bisa saya sebutkan satu-satu. Intinya saya bangga bisa menjadi salah satu orang yang dikenal mereka, karena rata-rata pada visioner semua.

Bersama Dr Maria (berkacamata) dan Beberapa Alumni Volunteer ITS IO

Dr Maria saat di Washington DC - Natgeo


Mana TNInya? Nih kita mulai masuk yak, sabar… we are now jumping into it.


Bisa kebayang dari pengalaman saya di atas, kenapa kok saya “ogah” jadi TNI meskipun saya dibesarkan di keluarga militer? Mulai masuk tahun ke-4 kuliah. Mulai bingung....... gupuh..... panik..... BUKAN bingung mau lanjut ke mana setelah lulus, bukan juga bingung bakal kerja di mana, karena pada saat itu udah sempet yakin mau langsung daftar beasiswa S2 di National Chengkung University Taiwan. Udah mantaplah sama pilihan itu, so confusion was not my thing at the moment. Jadi kebingungan saya adalah, bingung karena udah jarang program beasiswa untuk mahasiswa tahun ke-4. Program beasiswa biasanya untuk mahasiswa tahun ke-2 dan/atau ke-3. Jadi saya mulai mangatur bagaimana caranya hemat. Sampai akhirnya saya terpikir dan melihat adanya peluang beasiswa yang disediakan oleh TNI atau disebut Program Mahasiswa Beasiswa TNI. Program itu diadakan untuk membiayai mahasiswa tahun ke-4 hingga menyelesaikan skripsi dan WAJIB mengabdi pada TNI setelah lulus kuliah. TNI, ini kata kuncinya. Peluang beasiswa untuk tahun ke-4 udah nemu, dan bergelut dengan kebingungan yang baru. Rencana daftar beasiswa S2 NCKU di Taiwan seakan goyah. Bisa saja sih saya gak ambil itu beasiswa TNI dan kekeuh sama rencana S2 saya dan 'ber-diaspora'. Tapi... setelah lihat peluang beasiswa TNI itu, saya jadi berpikir ulang untuk daftar beasiswa S2 Taiwan lalu pergi ke luar negeri dan menetap di sana. Yah.. sebenarnya sok-sok an juga sih, belum tentu saya keterima di dua-duanya, wkakak. Tidak apapa, kan berandai-andai itu bebas!


Campus Life - 2014

Sekedar info, saya dibujuk seisi keluarga untuk coba seleksi TNI setelah lulus sekolah dan mempersiapkannya terlebih dahulu. Harapan-harapan itu mulai tercium ketika saya diterima di kelas IPA saat kelas 2 SMA (2010), karena lulusan kelas IPA merupakan salah satu syarat masuk akademi militer (taruna) AD, AL, AU dan saya gak mau sama sekali untuk daftar, karena bayangan saya udah kuliah, kuliah, kuliah. Hingga akhirnya Juni 2015, saya mulai bertanya pada Emak, Bapak, Kakak terkait pertimbangan saya soal beasiswa TNI. Mereka semua mendadak senengnya bukan main mashaallah seolah-olah anaknya udah jadi jendral aja padahal daftar juga belum tentu diterima di seleski berkas (wkakak). Tapi memang karena mereka kepingin ada yang meneruskan amanah sebagai TNI, jadi pas tau saya tanya-tanya (doang dan belum tentu tertarik) soal beasiswa TNI mereka udah anggep saya dapat hidayah besar dari Allah SWT dan selamat dunia-akhirat (ampun). Juni 2015, saya mulai ganti program olah raga saya demi mempersiapkan di seleksi beasiswa TNI, yang awalnya gym dan treadmill doang, saya ubah jadi program jasmani ala-ala seleksi milter (saya menjabarkan yang ini ntar-ntar aja kali yak, kepanjangan nih artikel keburu bosen yang baca.) Intinya program laithan saya berubah, yang awalnya badan seger-seger gempal (wokakakak jijique!), berubah jadi agak kering, wajar banyak kardionya kalo udah masuk military training program. Dua bulan berlalu, September 2015 adalah bulan yang sangat kritis akan keyakinan dalam memilih, karena:

1)   Penerimaan Pendaftara Beasiswa TNI 2016 mulai dibuka. Proses seleksi keseluruhan dilaksanakan selama 3 bulan terdiri dari; berkas-berkas yang seabrek, tes kesehatan yang dilakukan sebanyak 2 tahap, tes psikologi wawancara dan tulis, tes kesehatan jiwa wawancara dan tulis, tes mental ideologi wawancara dan tulis, tes logika, tes kesegaran jasmani (lari, renang dan antek-anteknya), tes postur tubuh dan lain-lain. Kebayang,  serangkaian itu dilakukan 2 kali, yaitu saat selesksi tingkat daerah/provinsi dan selanjutnya jika lolos akan diseleksi lagi dengan skala nasional, dipertemukan dengan pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Jelas kan kenapa bisa sampai 3 bulan proses seleksinya? Karena saya saat itu masih kuliah semester 6, jadi saya sering ijin gak masuk kuliah demi mengikuti proses seleksi.

2)    Open Recruitment untuk pendaftar beasiswa program S2 National Ceng Kung University (NCKU) Taiwan. Dimulai dengan melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan dan mengikuti Interview dengan Profesor dari NCKUnya langsung untuk mendapatkan sponsor/Letter of Acceptance (LoA) oleh profesornya secara personal, yang berikutnya ketika selesai skripsi akan dilanjutkan oleh proses-proses berlanjut hingga menerima LoA dari institusi.

Kedua kesempatan tersebut dibuka dibulan yang sama dan pada saat itulah saya dihadapkan dengan dua pilihan yang cukup membuat saya banyak melakukan analisa terhadap hati saya sendiri. Meskipun saya sudah mempersiapkan latihan untuk seleksi beasiswa TNI selama dua bulan, tetapi impian saya untuk mengadu nasib di negara orang tetap mengusik hati dan pikiran saya. Saya googling banyak soal karir militer dan S2 di Taiwan. Keduanya memiliki nilai positif dan negatifnya masing-masing. Kalau saya pilih S2 di Taiwan, mungkin saya akan memaknai arti kebebasan dan tanggung jawab akan pendidikan yang tinggi. Tetapi saya akan benar-benar jauh dari orang-orang terdekat saya seperti orang tua, kedua kakak saya, pacar saya dan banyak hal yang saya pertimbangkan. Iya tau, kalo saya ke Taiwan juga pasti dapet temen baru, tapi entah saat itu saya galau akut, padahal itu adalah cita-cita saya sejak remaja. Kalau saya masuk militer, mungkin saya akan dibatasi oleh banyak hal, kreaitivitas saya akan terkunci sementara, berhadapan dengan situasi yang saklek dan keras. Tapi dengan bergabung di militer, mungkin akan melatih saya dalam menghargai kesederhanaan dan perdamaian dalam kehidupan. Dilema ya… Padahal belom tentu keterima dua-duanya. Akhirnya saya putuskan untuk menjalani kedua seleksinya dibulan yang sama, yakni September 2015. Pada bulan Oktober, seleksi berkas TNI selesai, saya berhak mengikuti rangkaian seleksi selanjutnya, dibulan Oktober 2015 juga saya resmi dapat surat tanda bahwa saya diterima oleh salah satu profesor NCKU sebagai sponsor saya dan beliau menyatakan menunggu ketertarikan saya setelah saya skripsi untuk selanjutnya nama saya bisa diajukan ke level institusi untuk mendapatkan LoA dari NCKU. Intinya, jika saya minat NCKU maka saya akan diberangkatkan setelah saya menyelesaikan skripsi saya. Namun apabila saya batal minat, maka saya bisa konfirmasi ke profesornya kalo saya batal ambil beasiswanya. Saya merasa ini salah satu yang dapat saya andalkan ketika saya lulus nantinya, Pada saat itu saya masih semester 6 ya.. Kepuasan belum terpenuhi karena saya masih ditengah-tengah rangkaian seleksi beasiswa TNI. Yang awalnya saya merasa seleksi TNI ini hanya untuk coba-coba berhadiah, hingga akhirnya saya lolos sampai seleksi pusat di Jakarta. Di sana para peserta dikarantina kurang lebih 2 minggu di markas TNI AD untuk menjalankan serangkaian seleksi. Disaat itu lah saya tiba-tiba merasa sangat ingin diterima, gak mau gagal, gak mau pulang dengan kegagalan, ingin pulang dengan berita baik, dan seolah saya melupakan surat tanda diterima oleh Profesor NCKU yang sudah bersedia menjadi sponsor saya bila saya minat setelah selesai skripsi. Mengingat banyak keluarga dan orang-orang terdekat yang menanti kabar baik saya dan berdoa untuk saya di Surabaya, semakin membuat saya mengerahkan tenaga yang saya punya demi diterima di seleksi TNI ini.

Orang-orang yang  Membuat Saya selalu Ingin Tinggal

Pada 11 November 2015: Saya resmi dilantik menjadi Mahasiswa Beasiswa TNI Matra Angkatan Laut di Markas Besar TNI. Alhamdulillah, saya pulang dengan membawa berita baik untuk keluarga dan orang-orang terdekat saya. Saya memilih untuk mengabdi di TNI bukan menempuh pendidikan S2 di NCKU. Pada 19 September 2016 saya diwisuda dari ITS Surabaya dan mendapatkan apa yang saya inginkan saat saya SMA, yaitu menjadi Sarjana Teknik. Setelahnya, saya melanjutkan kehidupan saya di pendidikan Militer di Magelang, hingga 21 Juli 2017 saya dilantik menjadi Perwira Angkatan Laut. Amanah ini telah menggiring saya untuk mengabdi pada Pushidrosal (Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL) yang bertempat di Jakarta hingga sekarang. Saya sempat membanding-bandingkan kehidupan saya (BUKAN dengan kehidupan orang lain). Saya penasaran bila saya mengambil kesempatan beasiswa S2 di Taiwan, seperti apa kehidupan yang saya punya dibandingkan dengan kehidupan militer yang saya punya sekarang. Namun, saya percaya bahwa tidak ada yang perlu disesali atau disayangkan karena semua itu adalah pilihan saya sendiri. Menjadi Perwira TNI AL adalah pilihan saya sendiri, bukan paksaan. Saya bersyukur karena saya bisa menggunakan ilmu yang saya emban di Kampus untuk mengabdi pada negara saya sendiri bukan untuk lainnya. Bahkan ketika saya merasa goyah dengan keyakinan saya, saya selalu berusaha mengingat jawaban saya sendiri saat saya menjalankan tahap wawancara mental ideologi di seleksi TNI dulu. Ketika saya ditanya oleh interviewernya “Kenapa berminat daftar TNI? kan sudah kuliah S1 dan bahkan sempat ikut program ke luar negri saat kuliah? kan bisa kerja di perusahaan asing atau semacamnya dan bisa mendapatkan gaji lebih tinggi dibanding jadi TNI?” dan saya menjawab dengan hati saya saat itu,

“Saya memilih untuk menjadi Perwira Prajurit Karier TNI, karena saya dididik secara formal oleh negara ini sejak saya TK hingga di bangku universitas. Saya tidak mau dengan cara apapun mengabdikan diri saya untuk bangsa lain. Dan saya yakin, melalui TNI ini, saya akan dapat berkontribusi penuh dalam kepentingan negara saya sendiri bukan negara lain.”


 Saat 3 Bulan Pertama Menjadi Perwira Pushidrosal


Saat mewakili Pushidrosal di Pertemuan Kantor Hidrografi antar Negara di Shanghai, China 2018



Terima kasih telah membaca, tanggapan kalian berarti :)


64 comments :

  1. Selamat malam mentor, still mentor. Mhi memberikan saran, Kemampuan menulis mentor bisa dikembangakan ke tulisan militer. Majalah/tabloid tni AL. Siapa tau mentor bakal dikenal sebagai penulis AL.

    ReplyDelete
  2. Inspiring banget, bukan bearti menjadi TNI ga bisa berbuat lebih 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betull harus bisa kontribusi dimanapun kita berada yaa. Makasih udah baca

      Delete
  3. Sangat memotivasi lanjutkan abang menulisnyaaπŸ‘πŸ‘πŸ’ͺ

    ReplyDelete
  4. Sangat memotivasi mas pengalaman yang mirip dengan saya yang harus memilih antara its dan akademi semoga saya mulai bisa berfikir kritis. Kalau bisa boleh minta saran tentang pilihan saya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo. Salam kenal. ITS jurusan apa tahun brapa??

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Inspirasi banget kak.. Mungkin bisa jadi konselor saya kak.. Bimbang banget ini...

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Always proud of you jallll 😊 Keep inspiring yaaa, sukses teruss karirnyaa . Terus semangat bagi ceritaa menginspirasii lainnya 😊

    ReplyDelete
    Replies

    1. Halo lusii makasih ya. You’re one of them who has inspired me much. 😊

      Delete
  9. keep inspiring people. semangat jalani hidup, berkarya dengan niat ibadah pada Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah thank you my inspirational brother!!!

      Delete
  10. memotivasi banget, aq nangkapnya kayak gini sih, sesuatu yg awalnya ndak kita suka sama sekali tapi pada akhirnya Tuhan berkata lain dan pantesnya kamu tu disini.

    nice story, lanjutkan bang brooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank youuu makasih udah baca πŸ˜„ setuju dengan pendapat soal pendapat Tuhan. As long as we work on our plans

      Delete
  11. Pejuang PK AD doain aku ka dari ipb teknik sipil dan lingkungan

    ReplyDelete
  12. keren.. sukses terus ka malawiπŸ‘
    bikin blog lagi kaa tentang pengalaman selama jd taruna di TNI AL dan pengalaman di pushidros

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bukan Taruna. Tapi perwira karier hehe makasih udah mampir di blog saya ya. Nanti saya nulis lagi

      Delete
  13. Replies
    1. Kak Bias komen sini juga. Thank you once againn Kak

      Delete
  14. Ingin mengabdi untuk negara dr lulus sma nggak lulus, skrg ingin coba mengabdi lagi tp mubgkin ipk nggak sampe 3 di FT ��, ada saran kah bang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba perhatikan lagi sekitar kamu siapa tau ada peluang2 yg gak terduga

      Delete
  15. Ini baru contoh panutan yang wajib di tiru mantap deh mas Rizal Malawi πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  16. SUPERB!! Semoga karirnya di TNI semakin baik, kelak menjadi penguasa yang bermoral tinggi :)
    See you on top, brother!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo one of the persons I get inspired with!!! Makasih ya udah mampir sinii

      Delete
  17. Waah inspiratif mas, semangat terus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Eros. Yg lagi hobby nyanyi ga nyangka suara bagus juga

      Delete
  18. U nailed it dude!*komen versi mainstream

    ReplyDelete
  19. Inspirasi dan sangat memotivasi, mantap πŸ‘

    ReplyDelete
  20. wah emaknya keren, puluhan tahun berperan sebagai wanita tangguh. Salute!

    ReplyDelete
  21. Tulisan dek Rizal sangat memotivasi saya..keep inspiring ya dek, barokallah :)

    ReplyDelete
    Replies

    1. Emak saya yg menginspirasi Mbak Nela, tangguh dan endurancenya gede sbagai perempuan. Wkwk makasih mbak Nel udah mampir ya:D ga nyangka sampe dibaca mbak Nels

      Delete
  22. Sangat mengispirasi bang...luar biasa perjalanan hidupny...sukses terus bang..banyak belajar kisah dari bang malawi..semoga tetap mengispirasi banyak orang ..

    ReplyDelete
  23. Terkesima masya allah ud ganteng .. sukses .. proud of you... bangga wanita yg sdh memiliki km ..

    ReplyDelete
  24. Tahun berapa kah kl boleh tahu ...😊..

    ReplyDelete
  25. Perjalanan karir yg indah. Bisa dijadikan bahan pas ngajar bimbingan karir di skolah. Trmksh ya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih sekali semoga dapat menginspirasi:D salam kenal terima kasih udah baca

      Delete
  26. Ceritanya hampir mirip dg history saya. Dan saya pun selesai S1 Teknik Informatika. Jg mau ambil Spapk Perwira TNI. Smg thun depan 2020 dpat lolos seleksi. Dan dpt sbg abdi negara.

    ReplyDelete

First Launched Article

Kelahiran dari Kebaruan

"Sama halnya dengan bayi-bayi yang membutuhkan orang tua mereka untuk menuntun tumbuh kembangnya, para penulis membutuhkan pembaca u...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes